Tolitoli

Tanjung Batu, Pesona Sunset Tolitoli

Posted in Tolitoli on November 19th, 2009 by Kaimun – Be the first to comment

Tanjung batu, siapa orang Tolitoli yang tidak kenal dengan tempat ini. Di siang hari menjadi tempat terbaik untuk melihat keindahan pantai. Walau panas, indahnya biru laut dan gradasi warna laut sanggup menjadi pelepas lelah sesaat sementara bekerja. Jika lapar, tersedia warung rakyat yang mejual ikan bakar lengkap dengan sayur dan rica-ricanya.

Kalau malam hari, Tanjung Batu dipenuhi kafe-kafe sedap malam. Hidangan istimewanya jagung bakar, kue-kue, dan tentu saja, nasi goreng. Sambil makan anda akan ditemani musik romantis, dan bila beruntung ada pemutaran-pemutaran film melalui TV yang ada di kafe.

Yang paling menarik adalah sunsetnya Tanjung Batu. Efek-efek cahaya matahari yang sebentar lagi akan tenggelam menimbulkan suasana keindahan alam yang sangat harmonis.

Tanjung Batu

tolitoli

Perubahan di Tolitoli

Posted in Tolitoli on November 5th, 2009 by Kaimun – 19 Comments

tolitoliTolitoli kota yang berkembang, akses untuk menuju Tolitoli sangat mudah, jalan dan drainase disana tidak ada yang rusak dan semua berfungsi dengan benar, banjir tidak pernah terjadi, semua pejabat hingga pegawai bekerja maksimal dan penuh dedikasi, dan tentu saja, harga kebutuhan pokok cukup murah, kesempatan berusaha (wiraswasta) terbuka lebar dan didukung oleh infrastruktur yang dibangun pemerintah, lingkungan di Tolitoli belum rusak, tidak ada sampah, tidak ada pencemaran, dan kota bersih, indah, nyaman dan tenteram.

Namun, sampai saat ini, harapan hanyalah tinggallah harapan. Entah karena apa, sepertinya Tolitoli sedang sakit keras. Orang hidup dengan tidak tenang, sakit hati terpendam, dan ancaman bahaya serta masa depan yang suram.

“Yang kami takut banjir datang dengan tiba-tiba dan rumah tenggelam lagi. Tidak ada, tidak ada tanda-tanda gerakan untuk mencegah banjir disini”

“Mau usaha susah, mau tunggu musim cengkeh lama dan tidak pasti, mau jadi PNS tidak ada modal, mau apa di Tolitoli?”

“Percuma pulang kampung (maksudnya pulang ke Tolitoli), ilmu kita ini tidak akan pernah dipake, yang dipake, ya nama belakang”

Jika ingin Tolitoli berkembang, maka dibutuhkan banyak sekali perubahan. Perubahan, bisa terjadi jika kita mau, hanya jika kita mau. Ya belum terlambat. Darimana perubahan itu? Of course, mulailah dari diri kita sendiri. Yang mengubah nasib suatu kaum hanya kaum itu sendiri, tidak bisa bila hanya menunggu berkah saja dari langit dan mengabaikan segalanya.  Berikut beberapa langkah yang mungkin bisa kita lakukan atau suarakan.

Pertama cintailah lingkungan yang ada di Tolitoli. Bencana banjir baru-baru ini sudah mengingatkan kita betapa hal ini terlalu kita abaikan. Melihat kronologisnya, banjir terjadi karena dua sebab, kiriman air yang berlimpah dari mata air sungai Tuweley, dan naiknya permukaan air laut di muara sungai dan sekitarnya.

Sumber mata air Tuweley letaknya di bagian timur kota, kawasan ini ternyata sudah berkembang sebagai kawasan permukiman. Seharusnya kawasan ini  tidak dibudidayakan dan ditetapkan sebagai konservasi. Sementara itu di muara sungai Tuweley terdapat proyek pembuatan jalan yang sama sekali mengabaikan lingkungan. Jalan yang dibuat (entah sekarang masih ada atau sudah roboh) menghalangi akses air di wilayah “payau” dari Tanjung Batu hingga kawasan pelabuhan. Hal ini diperparah dengan dipangkasnya kawasan resapan air yang ada di wilayah Dinopi dan Nalu. Akibatnya, jika terjadi hujan dan kebetulan sedang pasang, entah bagaimana lagi nasib orang Tolitoli.

tunggu tulisan lanjutannya,

Banjir Tolitoli Bisa Dicegah

Posted in Tolitoli on October 9th, 2009 by Kaimun – 3 Comments

tolitoliBanjir yang melanda Tolitoli kamis (8 Oktober 2009) bukan bencana yang mengagetkan. Tahun lalu pun bencana yang sama telah terjadi. Tahun-tahun sebelumnya juga sudah terjadi. Masyarakat Tolitoli tentu saja dapat belajar banyak dari bencana yang sudah menjadi langganan ini. Oleh karena itu, adalah hal yang sangat mungkin untuk melakukan tindakan pencegahan atau paling tidak meminimalisir dampak dari bencana tersebut. Asal kita mau melakukannya (action) pasti bencana dapat terhindarkan.

Pihak yang paling utama untuk segera bertindak adalah pihak pemerintah daerah yang saat ini dipimpin oleh Bupati Drs. H. Moh. Ma’ruf Bantilan, MM. Pemerintah hendaknya memperhatikan rencana tata ruang yang sebelumnya pasti sudah dibuat. Penekanan harus diberikan pada point pembagian zona kawasan konservasi dan kawasan budidaya.

Contoh wilayah yang seharusnya menjadi kawasan konservasi adalah kawasan pegunungan di bagian timur Kelurahan Tuweley. Dimana di daerah itu terdapat mata air Sungai Tuweley yang membelah kota Tolitoli . Mata air ini juga dimanfaatkan oleh PDAM setempat sebagai sumber air minum. Sangat disayangkan, di wilayah yang seharusnya dikonservasi ini telah berkembang permukiman penduduk. Di samping itu, aktifitas pembalakan liar dan pembukaan lahan baru terus terjadi. Akibatnya, kawasan ini tidak lagi berfungsi sebagai penyangga dan reservoir air. Tentu saja setiap terjadi hujan, air akan langsung menuju Sungai Tuweley, meluap dan beresiko menimbulkan banjir. Pada musim panas, karena tidak adanya cadangan air tanah terjadi penuruan debit air di Sungai Tuweley.

Wilayah yang juga seharusnya dikembangkan sebagai kawasan konservasi adalah wilayah muara sungai Tuweley dan kawasan hutan bakau di sekitarnya. Sayangnya wilayah ini sudah rusak karena proyek pembangunan jalan lintas yang menghubungkan Tanjung Batu dengan Kawasan Pelabuhan. Proyek jalan lintas tersebut kini tersendat dan yang  lingkungan sekitar menjadi korban. Pihak yang menyelenggarakan proyek ini pastinya tidak punya pemikiran yang baik mengenai lingkungan dan tata ruang.

Selanjutnya kawasan yang seharusnya diperhatikan sebelum terlambat adalah kawasan rawa dan tambak di Kelurahan Nalu dan sebagian wilayah Dinopi. Berdasarkan pengamatan wilayah ini sebelumnya merupakan kawasan tangkapan air. Namun saat ini sudah banyak bangunan yang berdiri. Bahkan, rencananya, kawasan ini akan ditetapkan sebagai kawasan perkantoran. Kebijakan mengenai hal tersebut patut dikaji kembali mengingat kondisi lingkungan yang ada. Jangan sampai ada bencana lagi baru mulai bertindak.

Masyarakat sendiri juga harusnya mengerti dan mau melaksanakan upaya pencegahan bencana. Diantara beberapa hal yang bisa dilaksanakan warga adalah dengan membuat bangunan yang ramah dengan lingkungan. Di setiap rumah harusnya tersedia ruang terbuka yang tidak ditutupi oleh beton. Ini untuk membantu tanah melakukan penyerapan terhadap air hujan.

banjir-tolitoliKawasan Malosong yang merupakan kawasan pertokoan adalah contoh bangunan-bangunan yang menyimpang. Semua bangunan yang ada di tempat ini tidak memiliki ruang terbuka sebagai media penyerapan air. Akibatnya, setiap hujan terjadi pasti terjadi genangan. Selain itu, kondisi saluran drainase di tempat ini cukup parah. Saluran drainase tidak memiliki hierarki, ukurannya kecil, dan sering dipenuhi sampah. Semua ini memancing resiko besar datangnya bencana.

Kiranya, semua pihak yang ada di Tolitoli mau mengintrospeksi diri mereka. Bencana bisa dicegah. Sebelum terlambat, lakukan action sekarang. Jangan sampai nanti bencana terjadi tidak ada lagi yang bisa dibuat.

Penulis adalah mahasiswa PWK Unhas yang berasal dari Tolitoli.