Tolitoli kota yang berkembang, akses untuk menuju Tolitoli sangat mudah, jalan dan drainase disana tidak ada yang rusak dan semua berfungsi dengan benar, banjir tidak pernah terjadi, semua pejabat hingga pegawai bekerja maksimal dan penuh dedikasi, dan tentu saja, harga kebutuhan pokok cukup murah, kesempatan berusaha (wiraswasta) terbuka lebar dan didukung oleh infrastruktur yang dibangun pemerintah, lingkungan di Tolitoli belum rusak, tidak ada sampah, tidak ada pencemaran, dan kota bersih, indah, nyaman dan tenteram.
Namun, sampai saat ini, harapan hanyalah tinggallah harapan. Entah karena apa, sepertinya Tolitoli sedang sakit keras. Orang hidup dengan tidak tenang, sakit hati terpendam, dan ancaman bahaya serta masa depan yang suram.
“Yang kami takut banjir datang dengan tiba-tiba dan rumah tenggelam lagi. Tidak ada, tidak ada tanda-tanda gerakan untuk mencegah banjir disini”
“Mau usaha susah, mau tunggu musim cengkeh lama dan tidak pasti, mau jadi PNS tidak ada modal, mau apa di Tolitoli?”
“Percuma pulang kampung (maksudnya pulang ke Tolitoli), ilmu kita ini tidak akan pernah dipake, yang dipake, ya nama belakang”
Jika ingin Tolitoli berkembang, maka dibutuhkan banyak sekali perubahan. Perubahan, bisa terjadi jika kita mau, hanya jika kita mau. Ya belum terlambat. Darimana perubahan itu? Of course, mulailah dari diri kita sendiri. Yang mengubah nasib suatu kaum hanya kaum itu sendiri, tidak bisa bila hanya menunggu berkah saja dari langit dan mengabaikan segalanya. Berikut beberapa langkah yang mungkin bisa kita lakukan atau suarakan.
Pertama cintailah lingkungan yang ada di Tolitoli. Bencana banjir baru-baru ini sudah mengingatkan kita betapa hal ini terlalu kita abaikan. Melihat kronologisnya, banjir terjadi karena dua sebab, kiriman air yang berlimpah dari mata air sungai Tuweley, dan naiknya permukaan air laut di muara sungai dan sekitarnya.
Sumber mata air Tuweley letaknya di bagian timur kota, kawasan ini ternyata sudah berkembang sebagai kawasan permukiman. Seharusnya kawasan ini tidak dibudidayakan dan ditetapkan sebagai konservasi. Sementara itu di muara sungai Tuweley terdapat proyek pembuatan jalan yang sama sekali mengabaikan lingkungan. Jalan yang dibuat (entah sekarang masih ada atau sudah roboh) menghalangi akses air di wilayah “payau” dari Tanjung Batu hingga kawasan pelabuhan. Hal ini diperparah dengan dipangkasnya kawasan resapan air yang ada di wilayah Dinopi dan Nalu. Akibatnya, jika terjadi hujan dan kebetulan sedang pasang, entah bagaimana lagi nasib orang Tolitoli.
tunggu tulisan lanjutannya,